Gandeng APPBI Jatim, Cak Eri Tegaskan Ingin Angka Pengangguran Turun Jadi 7%

Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya didampingi Sutandi Purnonosidi, Ketua DPD APPBI Jatim.

iniSURABAYA.com – Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya menegaskan, upaya pengentasan pengangguran di Kota Pahlawan ini bukan hanya tugas pemerintahnya, tetapi juga ada kontribusi dari para investor.

Eri Cahyadi berharap peluang investasi di Surabaya dapat memberi dampak pada warga, baik itu dari sektor lapangan pekerjaan, maupun bentuk CSR untuk pembangunan kota.

Bacaan Lainnya

“Saya ingin membuka peluang investasi di Surabaya. Tetapi saya juga ingin investasi itu berdampak pada warga,” kata Eri Cahyadi usai bertemu Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur.

Dalam pertemuan tersebut, pria yang akrab disapa Cak Eri ini bersama 33 pengelola mal di Surabaya membahas percepatan penanganan pengangguran dan penyerapan tenaga kerja.

“Dalam membagun kota itu tidak bisa kalau hanya pemerintahnya sendiri. Tetapi bagaimana pemerintah itu bisa merangkul semua pihak, memberikan kepastian dan jaminan, sehingga para investor juga menggerakkan perekonomian, mengurangi kemiskinan, dan pengangguran di kota ini,” tuturnya.

Cak Eri mengungkapkan, saat ini ada 80-95 persen mal di Kota Pahlawan yang menyerap tenaga kerja asal Surabaya. Cak Eri mengingatkan kepada warga Surabaya, untuk tidak berharap mendapatkan gaji di atas upah minimum kota (UMK), karena tidak semua rekrutmen itu nantinya ada di bawah naungan pihak mal.

“Apakah gaji di semua mal itu UMK, ya enggak. Karena di mal itu tidak semua (tenant) pengusaha besar. Ada juga UMKM, dan ada juga yang baru merintis. Kalau pengusaha baru mencoba, atau UMKM disuruh gaji Rp 4 juta, ya nggak malah untung tambah buntung,” tegasnya.

Karena itu, Cak Eri meminta kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya untuk hadir mendampingi pemilik tenant di mal agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Karena kalau kerja di mal kemudian ada yang digaji di bawah UMK, bisa diserbu malnya. Padahal kan itu UMKM yang diberikan tempat di mal. Maka dari itu saya minta Disperinaker untuk mendampingi itu,” tuturnya.

Cak Eri berharap, mal di Surabaya dapat menyerap tenaga kerja minimal 40 persen warga ber-KTP Surabaya. Dengan begitu, angka pengangguran di kota ini akan menurun. “Karena sekarang angka penganggurannya dari 9,7 persen, menjadi 7 sekian persen. Di tahun ini saya ingin maksimalnya 4 persen, kemudian kemiskinannya bisa turun 2 persen,” ucapnya.

Selain bersama mal, Cak Eri menambahkan, juga akan bekerja sama dengan perindustrian serta investor lainnya di Kota Surabaya. “Makanya tadi saya sampaikan, kalau perizinan itu harus satu pintu jangan sampai ketemu dinasnya, jadi langsung melalui PTSP,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Cak Eri ingin APPBI Jatim bukan hanya bisa menyerap tenaga kerja, namun juga menjadi orang tua asuh bagi balita stunting Surabaya.

Pelatihan Kerja
Di samping itu, Achmad Zaini, Kepala Disperinaker Kota Surabaya meyakinkan, akan menandatangani perjanjian kerjasama terkait nilai upah yang dijanjikan sebelum tenant atau pihak mal melakukan rekrutmen.

“Nanti saya akan tanda tangan di situ, untuk menjamin menyesuaikan kondisi di lapangan bahwa tidak harus sesuai UMK,” tandas Zaini.

Zaini juga menyampaikan kepada para pengelola mal yang hadir, sejauh ini pemkot juga telah menyiapkan tempat pelatihan untuk warga Surabaya, mulai dari pelatihan memasak dan sebagainya.

“Misalkan bapak atau ibu merekrut warga Surabaya, namun belum memiliki skil, kami bisa membantu melatih sampai siap bekerja, menyesuaikan kebutuhannya, akan kami siapkan,” urainya.

Sementara itu, Sutandi Purnomosidi, Ketua DPD APPBI Jatim berkomitmen melakukan penyerapan tenaga kerja warga ber-KTP Surabaya. Rata-rata, mal di Surabaya sudah melakukan penyerapan tenaga kerja ber-KTP Surabaya kurang lebih 50-95 persen.

Sutandi menyatakan, dalam kesempatan ini APPBI Jatim bersama Disperinaker Surabaya akan berkoordinasi dengan tenant-tenant di mal yang membutuhkan tenaga kerja. Sutandi yakin, tenant di Surabaya saat ini banyak yang membutuhkan tenaga kerja.

“Kami pasti bisa penyerapan tenaga kerja lebih dari 40 persen. Kami optimistis sekali. Terutama yang bekerja di bawah naungan mal langsung, pasti akan lebih dari itu,” pungkas Sutandi. wid

Pos terkait