Anak Jalanan Sanggar Alang-Alang Ungkapkan Makna Kepahlawanan di Antologi Puisi ‘Pahlawanku’

Anak-anak Sanggar Alang-Alang merilis buku antologi puisi 'Pahlawanku'.

Didit Hape didampingi sang istri.
“Realitanya, anak-anak jalanan itu mengamen di samping untuk tambahan uang sakunya, namun ada juga yang sebagian diberikan kepada orangtuanya” ungkap Sundari.
Sementara Imung Mulyanto, mantan Redaktur Seni Budaya Harian Surabaya Post dan Pimred Arek TV Surabaya mengamati, karya-karya puisi dalam buku antologi ini menyiratkan persepsi anak-anak tentang pahlawan.
Bagi mereka, pahlawan adalah orang yang dekat dan berjasa dalam hidupnya. Maka tersebutlah nama ibu, nenek, kakak atau guru.
Tetapi yang menarik, nama ayah jarang disebut. Hal ini bisa dimaklumi, lanjut Imung, karena mayoritas anak-anak Sanggar Alang-Alang diasuh oleh orangtua tunggal, bahkan ada yang yatim piatu.
Prestasi Sanggar Alang-Alang
Kehadiran buku antologi puisi ini tentu menambah jumlah prestasi Sanggar Alang-Alang yang selama 25 tahun berkiprah membina anak-anak jalanan, yang biasa mengamen khususnya di daerah sekitar terminal Joyoboyo.















