
Pelukis senior Asri Nugroho kolaborasi karya dengan Mr D, seniman multi talenta.
Tahun 1997 pameran di beberapa tempat di Asia dan tinggal selama enam bulan di Korea.
Sebagai pelukis, Asri Nugroho sudah mengunjungi Amsterdam (Belanda) dan beberapa negara Eropa lainnya.
Pencapaian itu tidak diperoleh instan. Dia meniti prestasi dari bawah. Selama belasan tahun Asri Nugroho menjadi tukang gambar poster bioskop. Baru pada awal tahun 90-an, nasibnya berubah.
Saat pergi ke Bali bersama Setyoko, teman sesama pelukis, Asri Nugroho berhasil menjual lukisan kepada pemilik Galeri Barwo. “Waktu itu lukisan saya dihargai Rp 30.000,” ujarnya mengenang.
Sejak itu tiap dua bulan sekali Asri bertandang ke Bali untuk menawarkan hasil karya lukisnya sampai mendapatkan harga yang pantas. Pekerjaan semula sebagai tukang gambar poster pun dia tinggalkan dan mantap meniti karier sebagai pelukis.
Bertolak belakang dengan aliran Asri, Doddy Hernanto menggabungkan seni analog dengan digital menjadi kredo dalam berkarya. Karya seni pria kelahiran Mojokerto ini tidak saja indah, namun juga menyimpan jejak digital dari masing-masing tema yang digarapnya.

















