
Hamid Nabhan
Bahkan lebih spesifik lagi, kata Agus Dermawan T, mengkristal menjadi pembicaraan kesenian. “Dengan begitu, catatan perjalanannya menjadi khas,” imbuhnya.
Hal lain yang menyebabkan catatan perjalanan Hamid jadi spesial adalah, ia juga merekam tempat-tempat yang dikunjungi itu dengan kameranya, dan dengan pensil, pena, atau kuasnya.
Tempat-tempat itu dia foto dan bahkan digubah dalam sketsa dan lukisan. “Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dia sampaikan dalam rekaman kamera. Yang tak bisa diurai dengan kata-kata, dan tidak lengkap bila hanya diwujudkan dalam foto, dia manifestasikan dalam bentuk sketsa serta lukisan,” paparnya.
Buku ‘Jelajah Eropa’ ini merupakan buku kedua Hamid yang berkaitan dengan catatan perjalanan. Di buku pertama, berupa ‘lorong sejarah’ dari perjalanan Hamid di tiga negara, yaitu Mesir, Palestina dan jordania.
Lorong sejarah ini bercerita tentang perjalanan dari berangkat sampai pulang. Tetapi di buku kali ini Hamis mengungkap tentang objek yang ditemui dari sudut pandang sejarahnya, dan juga lawatan ke tempat tempat yang tidak lazim, seperti ke makam di Swiss atau mengunjungi rooftop hotel milik Ronaldo. ap
















