
for Revenge
Namun, di saat bersamaan, for Revenge menyadari dua hal penting. Pertama, ekspektasi publik terhadap karya mereka semakin besar. Kedua, grup music ini harus mencari cara untuk menumbuhkembangkan musikalitas mereka tanpa meninggalkan DNA for Revenge.
“Satu hal yang pasti –kami tidak ingin menjadi musisi yang stagnan,” tegasnya.
for Revenge pun memutuskan untuk menyematkan nyawa yang berbeda di balik lirik dan melodi emosional ‘Sadrah’. Sebagai contoh, bila ‘Serana’ melambangkan ‘perayaan’ kesedihan, maka ‘Sadrah’ justru melambangkan ‘pemuliaan’ kesedihan.
“Kami membayangkan bahwa ‘Sadrah’ menceritakan tentang kekalahan cinta yang justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru bagi sang tokoh utama,” urai Boniex Noer.
Lagu ini, lanjut Boniex Noer, sangat memancarkan pergulatan batin yang terjadi –ketika sang tokoh utama kesulitan memproses kesedihan barunya, namun di sisi lain, dia harus segera melapangkan dadanya.
















