
Husain Ali Al-Haddad (foto: IST)
iniSURABAYA.com – Bagi Husain Ali Al-Haddad, hidup ini mirip sebuah pertandingan sepak bola berskala besar. Diperlukan taktik yang matang, pembacaan situasi yang jeli, dan yang paling penting adalah keteguhan mental saat peluit akhir ditiup.
Pria kelahiran Ampel Surabaya ini sehari-hari berkutat dengan keputusan korporasi besar sebagai Financial Director di Kaha Group. Namun, jika mengenalnya lebih dekat, Arek Suroboyo yang kini menetap di Condet, Jakarta Timur ini adalah seorang ‘pembaca permainan’ sejati di dunia bisnis dan industri olahraga.
Kecintaan Husain pada sepak bola memang melampaui sekadar sorak-sorai di depan layar kaca. Ia adalah tipe pria yang ingin merasakan langsung denyut nadi industri olahraga terbaik di dunia. Langkah terjauhnya tercatat pada tahun 2018, ketika ia memutuskan masuk ke dalam sistem kepelatihan ketat di Inggris dan sukses membawa pulang UEFA C Diploma dari England Football Learning (The FA).
Menantang Taktik di Teater Impian
Mendapatkan sertifikat tersebut bukanlah urusan mudah. Husain harus melewati ujian taktik yang menguras otak, termasuk melakukan evaluasi pertandingan langsung di tengah tensi tinggi Derby Manchester antara United vs City di Old Trafford.
Di teater impian itu pula, insting finansial dan kecintaan bolanya bertemu. Husain terpukau oleh ekosistem industri di sekitar stadion, bagaimana ribuan rumah singgah bisa menghidupkan bisnis senilai miliaran dolar, hingga detail unik seperti ribuan kursi dekat lapangan berlapis plat emas milik suporter setia yang tidak absen menonton selama 25 tahun.
Sistem manajemen luar biasa seperti inilah yang ia impikan bisa tegak di Indonesia suatu hari nanti.
Gelisah demi Lapangan Hijau Tanah Air
Lebih dari sekadar kekaguman pada gemerlapnya kompetisi di Inggris, perjalanan Husain sebenarnya membawa misi besar yang sarat akan kepedulian. Berbekal ilmu kepelatihan taktis dan manajemen yang ia timba langsung dari tanah Britania, ia menyimpan ambisi besar untuk mengaplikasikannya demi kemajuan persepakbolaan Indonesia.
Namun, melihat kondisi riil di Tanah Air, Husain sering kali didera kegelisahan. Banyak keluh kesah yang muncul ketika membandingkan betapa tertinggalnya tata kelola sepak bola kita dengan apa yang ia saksikan di Inggris.
Mengapa negara dengan basis massa pencinta bola terbesar di dunia ini masih kesulitan membangun ekosistem industri yang sehat? Mengapa pembinaan usia muda kita belum bisa berjalan secara sistematis dan profesional?
Bagi Husain, memajukan sepak bola nasional tidak cukup hanya dengan modal semangat dan fanatisme buta. Perlu ada perombakan total dalam cara kita ‘membaca permainan’ di luar lapangan.
Profesionalisme Manajemen: Membangun ekosistem bisnis di sekitar klub dan stadion agar mandiri secara finansial.
Sistem kepelatihan terstruktur yang menerapkan kurikulum taktis yang matang sejak usia dini, seperti sistem yang diterapkan oleh The FA di Inggris.
Visi untuk Masa Depan Timnas
Di lubuk hatinya, ada sebuah mimpi besar yang ingin ia saksikan nyata yaitu melihat Indonesia melenggang gagah menembus panggung Piala Dunia. Sebagai penggila bola yang di tahun 2026 ini menjagokan Prancis pada gelaran dunia, Husain tetap berharap bahwa di masa depan, jersey Merah Putih-lah yang akan berlaga di panggung tertinggi tersebut.
Perjalanan jauhnya ke Inggris adalah bukti nyata bahwa ada anak bangsa yang rela berkorban waktu dan pikiran demi membawa pulang ilmu terbaik. Kini, tugas besar kita bersama adalah bagaimana mewujudkan gagasan-gagasan taktis dan manajemen modern tersebut agar sepak bola Indonesia tidak lagi jalan di tempat, melainkan mampu berlari mengejar ketertinggalan dunia. *
[Penulis: Hamid Nabhan, seniman dan penulis senior Surabaya]
















