
ILUSTRASI : Suasana kegiatan Tong-Tong Fair yang rutin digelar di Belanda.
Agung menyatakan telah berkoordinasi dengan seluruh peserta UMKM asal Indonesia dalam upaya mencari solusi dan perlindungan dari Pemerintah Indonesia melalui kementerian, maupun KBRI Belanda yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah di Belanda.
“Kami sebagai anak bangsa merasa sangat dirugikan atas sikap sewenang-wenang tersebut. Kami telah memenuhi kewajiban pembayaran. Kami juga telah mengirim barang ke Belanda untuk persiapan mengikuti kegiatan tersebut. Kondisi ini tentu menyulitkan usaha kecil seperti kami,” urainya.
Selain merugikan peserta UMKM asal Indonesia, pembatalan sepihak Tong-Tong Fair juga menimbulkan kerugian bagi beberapa pengusaha diaspora Indonesia yang berada di Belanda. Mereka yang baru melakukan pelunasan pada bulan lalu juga terkejut atas pembatalan sepihak tersebut.
“Bukan hanya beberapa ratus Euro, tapi ribuan Euro (kerugiannya). Parahnya tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait pengembalian uang yang telah dibayarkan,” ujar Rendy, salah satu peserta Tong-Tong Fair di media Belanda.
“Kami telah berada di sana (Tong-Tong Fair) selama 25 tahun. Kami telah membayar tagihan sekitar 30.000 Euro dan semua belanjaan bahan untuk persiapan kami,” kata Billy dari restoran Indonesia Sarinande dari Den Haag.
















