
Dr Irwan Dwi Arianto MIkom
Dengan kata lain, standar yang dipromosikan oleh TikTok dan platform lain bukanlah sekadar tren sosial, melainkan bagian dari sistem ekonomi yang menguntungkan platform dan pengiklan dengan memanfaatkan psikologi pengguna.
Sistem ini bekerja dengan mendorong konten yang menarik engagement tinggi termasuk konten yang menampilkan gaya hidup ideal yang sering kali sulit dicapai oleh kebanyakan orang.
Seiring berjalannya waktu, pengguna secara tidak sadar terpapar konten yang sama berulang kali, menciptakan persepsi bahwa standar tersebut adalah norma yang harus diikuti.
Hal ini tidak hanya berdampak pada individu yang merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi tersebut, tetapi juga membentuk opini publik yang kemudian berkembang menjadi stigma sosial.
Stop Menyalahkan Wanita, Mulai Diskusi yang Lebih Sehat
Fenomena standar TikTok seharusnya menjadi bahan refleksi bersama, bukan alat untuk menghujat wanita. Alih-alih menyalahkan satu pihak, masyarakat perlu lebih kritis dalam melihat bagaimana standar sosial terbentuk dan siapa saja yang berperan dalam memperkuatnya.
















