Usai Rilis ‘Setelah Tanpa Deadline’, Mantan Wartawan SP Sepakat Terbitkan Harian Sore Surabaya Post Edisi Khusus

Puluhan mantan wartawan Harian Sore Surabaya Post menuangkan karya di buku 'Setelah Tanpa Deadline'.
Karya Pendiri SP
Menariknya dalam buku ‘Setelah Tanpa Deadline’ juga dimuat tiga karya A Azis, pendiri SP yang wafat 1984. Ternyata sebagai wartawan pejuang di tahun 1945, Azis juga menulis puisi, cerpen, dan naskah sandiwara.
Imung yang juga sempat berkiprah di sejumlah media Tanah Air ini menambahkan, “Karya pak Azis mendapat pujian dari Usmar Ismail dan para sastrawan di masa itu.”
Karya-karya Azis sengaja dimuat apa adanya dalam kaidah bahasa Indonesia tahun 1945, sebagaimana dimuat di koran Soeara Asia tempatnya bekerja. Bahkan penulisan tahunnya dibiarkan 2605, maksudnya ‘1945’.
Sesuai zamannya, diksinya sangat berapi-api membakar semangat patriotisme para pemuda. Dua judul ditulis menjelang kemerdekaan RI, satu judul dibuat beberapa hari setelah Proklamasi RI.
“Sayang saya tidak menemukan karya Ibu Toety Azis. Kabarnya beliau dulu sempat dibuatkan puisi oleh Chairil Anwar. Maklum, beliau kan wartawati Antara, jadi pasti hubungannya dekat dengan komunitas sastrawan atau budayawan kala itu. Cuma apakah beliau juga menulis puisi atau tidak, sampai wafat 1999, tidak ada yang tahu,” paparnya. ap

















