Matinya Kaum Penulis: ‎‎Sejarah Tak Pernah Ditulis oleh Iklan, Tetapi oleh Pena-Pena kecil yang Keras Kepala

0
1976

‎Jadi, jangan khawatir. Indonesia bukan satu-satunya ‘kuburan massal’ kaum penulis. Dunia memang sedang menggelar upacara kematian mereka.

‎Kalau dibiarkan, tulisan esai kritis akan benar-benar tinggal sejarah. Negara hanya akan dijejali propaganda, postingan iklan dan thread medsos penuh hoaks. Maka diperlukan revolusi pena —meski tanpa darah berikut:

‎‎Subsidi Intelektual. Kalau negara bisa memberi subsidi pupuk dan listrik, mengapa tidak memberi insentif bagi penulis esai bermutu? Bukan sekadar lomba menulis berhadiah sertifikat tapi program apresiasi reguler.

‎Model Bisnis Baru. Penulis jangan berharap lagi pada media. Belajar dari luar negeri, mereka bisa membangun basis pembaca lewat Patreon, Substack atau platform berlangganan. Pembaca langsung membiayai penulis.

‎Kolaborasi dengan Kampus dan Komunitas. Penulis bisa bermitra dengan universitas, LSM atau pusat studi. Tulisan esai tak lagi sekadar ‘opini’ tapi bagian dari gerakan literasi publik.

1 2 3 4 5

Comments are closed.