
Meimura (dua dari kanan) tampil sepanggung dengan anak-anak Samin di Auditorium IFI Surabaya.
Di puncak acara, Meimura tak ingin ketinggalan. Sang pembimbing anak-anak Samin ini menghadirkan ludruk garingan dengan lakon ‘Besut–Rusmini Sambang Sinambang’.
“Ini sebuah sajian yang membuktikan bahwa ludruk masih bisa kritis dan segar, meski dunia politik dan ekonomi kadang bikin kecut miris,” ucapnya.
Mainan Penggembala
Menurut Meimura, wayang suket adalah mainan para penggembala. “Lewat pementasan wayang suket ini, anak-anak ke depan menjadi ‘penggembala’. Artinya, sosok yang sabar, tangguh, dan tekun,” tutur seniman kawakan Surabaya ini mengurai filosofi wayang suket kepada iniSurabaya.com.
Sedangkan rumput, lanjut Meimura, adalah tanaman yg ada dimana saja. “Suket akan hidup kembali meski terbakar, terinjak, dan dibabat,” tegasnya.
Meimura mengungkapkan, ketiga seniman muda yang beraksi di Auditorium IFI Surabaya adalah generasi ke-empat Samin yang bermarkas di Gunung anyar Emas. Selain di sanggar, anak-anak Samin ini pernah pentas di sejumlah panggung.
















