
Imung Mulyanto
Berbagi Makna dan Hikmah
Zaenal Arifin Emka, dosen Stikosa-AWS memberi catatan khusus terkait kiprah Imung.
“Lewat puisi-puisinya, Imung dengan nada riang atau tangis, berupaya berkisah tentang perjalanannya. Barangkali dia sedang berusaha berbagi makna dan hikmah,” paparnya.
Zainal menyatakan, Imung sudah tahu, perjalanan panjang mulai dari alam ruh, rahim, dunia, barzach, kamat, hari perhitungan dan pembalasan surga atau neraka akan dilaluinya. “Dalam terminal-terminal perjalanan panjang, tempat sesekali ia berhenti. Ada perenungan. Menghitung tunainya tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah,” imbuhnya.
Zaenal mengapresiasi gagasan menghimpun puisi ini. “Puisi perlu dihimpun agar lelah letihnya perjalanan dalam kurun waktu panjang tak dilupakan anak cucu yang semakin jauh dari masa hidupnya. Imung tampaknya bukan hanya ingin berbagi kisah, namun juga berbagi hikmah,” ucap jurnalis senior yang sekarang fokus mendidik para calon jurnalis masa depan ini.
Sementara Adriono, penulis dan editor buku yang sangat produktif mengemukakan, ada pendapat yang sempat muncul di sela obrolan sesama reporter,“bila penyair nyemplung jadi wartawan maka karya sastranya bakal rusak.”

















