
Imung Mulyanto
Mungkin argumennya karena jurnalis dalam berkarya sangat mengutamakan fakta, dilarang keras beropini, anti kata bersayap, apalagi persepsi subjektif.
“Namun setelah menyimak karya-karya Imung, justru karena nyemplung di dunia kewartawanan, karya puisinya jadi berbeda jika dilihat dari segi tema, diksi, angle, maupun kedalamannya. Puisi yang dimuat dalam buku ini menunjukkan betapa bervariasinya tema yang diangkat serta aneka gaya ungkapnya,” ujar Direktur Pendar Asa Komunika ini.
Adriono lalu menyoroti puisi yang dinilainya cukup ‘mbeling’ yang menjadi judul kumpulan puisi ini.
Tuhan, plis deh…
Ajari lagi aku tertawa dengan tulus
Jangan dengan tontonan badut-badut berdasi bergaya anti korupsi
Tidak dengan akrobat-akrobat birokrat penggarong uang rakyat
Apalagi bangsat berdandan sorban penipu umat
Berlagak jadi filantrofi membantu sana sini
Puisi lain yang tak kalah ‘nakalnya’ yaitu puisi berjudul ‘Maaf, Aku Belum Selesai’. “Hal yang khas dari Imung, meskipun puisi religius tetapi ditulis dengan gaya pop dan agak nakal. Betapa tidak, Tuhan dipersonifikasi seolah seorang guru atau dosen. Maka sebagai penyair dirinya minta tolong diberi waktu untuk menyerahkan tugas akhir, diberi kesempatan untuk remidi, syukur-syukur pengayaan,” urainya. ap
















