
Semua karya itu berakar pada kebudayaan lokal dan mengandung pesan moral yang kuat. Tahun ini, ‘Hikayat Anak yang Sombong’ dikembangkan lebih ekspresif.
Selain mengangkat nilai-nilai tradisional, pertunjukan juga menampilkan kembali permainan masa kecil seperti sepur-sepuran dan bernyanyi berbalas.
“Kami ingin anak-anak merasakan keindahan masa kecil yang mulai hilang di tengah dunia digital,” tutur Heroe.
Pementasan yang sempat tertunda akibat situasi tidak kondusif pada Agustus lalu, kini kembali digelar dengan semangat baru. Para pemain kecil tetap berlatih tekun meski panggung sempat tertunda.
“BMS berkomitmen menjadikan teater anak sebagai sarana membangun karakter. Ini bukan hanya seni peran, tapi juga pelajaran hidup,” kata Ndindy Indiyati, Manajer Produksi ‘Hikayat Anak yang Sombong’.

















