
Harsiwi Achmad, Direktur Programming SCM diapit Gustav Aulia, Ketua Panitia Penyelenggara ‘Anugerah LSF 2025’ (kanan) dan Dr Naswardi, Ketua Lembaga Sensor Film (kiri).

Gustav menambahkan, Anugerah LSF berbeda dari festival film lainnya. Karena penilaian didasarkan pada kepatuhan terhadap kaidah sensor mandiri, bukan kualitas artistik atau kualitatif.
Yang juga berbeda, dalam proses penilaian oleh dewan juri ini tidak ada pendaftaran. “Kami lah lembaga film yang menilai. Yang kami nilai adalah apakah sebuah karya film, iklan film dan dan program film ini mematuhi dari semua unsur tadi,” tegasnya.
Sementara Dr Naswardi, Ketua Lembaga Sensor Film menyatakan, bahwa fokus utama anugerah ini adalah sebagai apresiasi untuk tiga unsur yaitu insan pertelevisian, perfilman, dan kepatuhan budaya sensor mandiri.
Naswardi menekankan pentingnya literasi menonton bagi masyarakat, terutama di era digital. “Kami ingin terus memasyarakatkan klasifikasi usia penonton kepada seluruh masyarakat Indonesia. Budaya sensor mandiri menonton sesuai usia. Literasi film, literasi menonton penting bagi masyarakat agar kaidah sensor mandiri itu menjadi budaya kita,” tandasnya.
Dia juga menyoroti pencapaian luar biasa industri film nasional. “Tahun lalu dan tahun ini adalah tahun terbaik untuk perfilman nasional kita dibandingkan dengan film impor,” tuturnya.
















