
Emi Suy bersama Supardi Djoko Damono. (foto: dok)
iniSURABAYA.com – Ada malam ketika sebuah rumah tidak lagi menjadi tempat paling aman. Sebuah pintu terbuka. Sebuah bayangan muncul. Sebilah pisau terangkat. Dan sebuah suara memecah keheningan.
Hamid Nabhan membuka cerpen ‘Suara dari Balik Penutup Wajah’ dengan situasi semacam itu. Rego, seorang pemilik toko buku, mendapati seorang lelaki berpenutup wajah berdiri di depan kamar sambil menodongkan pisau.
Namun, ketegangan yang dibangun cerpen ini tidak berhenti pada peristiwa penyusupan. Perlahan, cerita bergerak dari persoalan keamanan menuju sesuatu yang lebih sunyi, yakni tentang manusia yang berada begitu dekat dengan kita, tetapi kehidupannya tidak benar-benar kita lihat.
Pada awal cerita, pembaca ditempatkan pada posisi yang sama dengan Rego. Kita melihat sosok asing. Kita mendengar hardikan. Kita melihat pisau. Dengan informasi yang terbatas, sosok tersebut mudah ditempatkan sebagai ancaman.
“Tetapi cerita kemudian meminta pembaca mengubah cara pandangnya,” ungkap Emi Suyanti, sastrawati Surabaya dalam tulisan yang dikirim ke redaksi iniSurabaya.com, Rabu (30/9/2026).
















