
ILUSTRASI: Prostitusi digital (foto: IST)
Kini, setelah lokalisasi ‘hilang’, apa yang terjadi? Objek pengawasan itu lenyap. Para pramu nikmat menyebar ke jaringan informal yang tidak terpetakan. Frekuensi pemeriksaan kesehatan menurun drastis. Kontak dengan tenaga medis makin jarang.
Pemerintah mungkin puas karena lokalisasi tidak lagi tampak, tetapi masyarakat justru menghadapi ancaman kesehatan yang lebih gelap.
Di berbagai daerah Indonesia, peningkatan kasus HIV/AIDS pasca-penutupan lokalisasi sudah lama menjadi kekhawatiran para ahli kesehatan masyarakat.
Sebab penutupan membuat pekerja seks berpindah ke ruang-ruang tersembunyi, sehingga edukasi, pengawasan, dan pemeriksaan tidak lagi terjangkau.
Pejabat boleh tertawa-tawa dalam konferensi pers. Tetapi masyarakat yang hidup dalam realitas sosial justru dihantui bencana yang tak bersuara.
















