
Sasetya Wilutama (kanan) didampingi Imung Mulyanto saat peluncuran buku di Hotel Quds Royal Surabaya.
Dari hasil perburuannya, ketemulah lima buah cerpen dan delapan cerkak yang pernah ditulisnya pada kurun 2022 hingga 2025.
Dan uniknya, dalam buku antologi ini, karya cerpen dan cerkak digabungkan.
Bahkan, kata Sasetya, jika bisa menulis dalam bahasa Sunda atau Madura, tentu juga akan digabungkan.
“Bukan semata karena saya bisa menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa ibu. Namun saya menganggap bahwa karya sastra adalah karya universal, tidak ada batasan pemakaian Bahasa,” tegasnya.
Menurut Cak Sas, tidak ada dikotomi bahwa karya sastra berbahasa Indonesia lebih baik atau lebih mentereng dari karya sastra Jawa. Begitu juga sebaliknya.
“Karya sastra yang dituangkan ke dalam bahasa nasional maupun bahasa daerah mempunyai hak yang sama untuk dihargai, mempunyai kualitas yang sama untuk memperkaya khasanah literasi dan sastra Indonesia,” tuturnya.

















