
Sasetya Wilutama (kanan) didampingi Imung Mulyanto saat peluncuran buku di Hotel Quds Royal Surabaya.
Unsur kejutan nyaris dapat ditemui pada seluruh cerpen maupun cerkak Sasetya. Tetapi yang paling terasa misalnya ada pada cerkak ‘Wali Katon’ dan cerpen ‘Ibu hanya Ingin Dimengerti’.
Lima tahun terakhir, Sasetya memang sangat fokus merawat kedua orang tuanya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan hingga akhir hayat. Maka lahirlah cerpen dan cerkak dengan tokoh ayah dan ibu.
Misalnya cerpen ‘Sang Pewaris’, ‘Ayah Menyanyi’, dan ‘Ibu hanya Ingin Dimengerti’. Lalu cerkak ‘Wali Katon’, yang dipakai sebagai judul buku, dan ‘Bapak Wis Mesem’.
Orang-orang Sakit dan Tersakiti
Imung Mulyanto yang berperan sebagai penyunting buku ini menekankan, sebuah cerpen atau cerkak menjadi menarik jika tokoh utama yang ditampilkan unik, tidak biasa-biasa saja, bukan orang-orang normal. Cak Sas sepertinya menyadari hal itu. Tokoh rekaan Sasetya kebanyakan orang-orang sakit dan tersakiti.
Empat karyanya menampilkan tokoh janda mandiri yang dikhianati suami. Semisal pada cerpen ‘Ibu hanya Ingin Dimengerti’, ‘Perempuan yang Pergi’, cerkak ‘Pawakan’, dan ‘Kadhung Njangget’.
















