Agus Imam Sonhaji Ditunjuk Jadi Kepala Brida Surabaya, Eri Cahyadi: Bangun Kota Tak Hanya Pakai ‘Ilmu Kira-kira’

0
199

Cak Eri –begitu sapaan akrab Wali Kota Surabaya ini—berharap, Brida memastikan setiap rupiah APBD menghasilkan solusi konkret. “Risetnya jangan menumpuk di laci, tapi harus jadi aplikasi atau kebijakan yang dirasakan warga Surabaya,” ujarnya.

UPT Kebun Raya Mangrove
Salah satu perubahan signifikan dalam struktur baru ini adalah bergabungnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove secara langsung di bawah naungan Brida. Kebijakan tersebut mengubah paradigma pengelolaan kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Wonorejo.

Kawasan ini tidak lagi semata diposisikan sebagai destinasi wisata alam, melainkan sebagai pusat riset konservasi berstandar internasional. “Integrasi tersebut bertujuan mengembalikan fungsi dan marwah kebun raya sesuai standar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” cetus Agus Imam Sonhaji.

Agus menandaskan, Kebun Raya Mangrove kini punya mandat ilmiah yang kuat. Di bawah Brida, kami fokus menjadikannya pusat studi blue carbon (karbon biru) dan benteng ekologi kota. Surabaya akan menjadi pilot project nasional bagaimana kota pesisir memanfaatkan mangrove untuk mitigasi perubahan iklim sekaligus potensi ekonomi karbon,” urainya.

Agus memaparkan bahwa Brida dirancang sebagai agregator ekosistem riset dan inovasi. Surabaya yang dikenal memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas serta industri strategis, selama ini menyimpan potensi riset besar yang belum terintegrasi secara optimal.

Konsep Pentahelix Jadi Heptahelix
“Kehadiran Brida diharapkan mampu menyinergikan berbagai potensi tersebut,” imbuhnya. Untuk memperkuat kolaborasi, lanjut Agus, Brida Surabaya meningkatkan model kerja sama dari konsep Pentahelix menjadi Heptahelix.

1 2 3 4

Comments are closed.