Jagongan ala FPKS Bahas ‘Masa Depan Kesenian Surabaya’

0
104

iniSURABAYA.com – Di masa kini, posisi kesenian di Surabaya sering kali ambigu. Diakui secara simbolik, tetapi kurang dirawat secara substansial. Pemerintah hadir dalam bentuk festival tahunan, seremoni kebudayaan atau lomba-lomba yang rapi secara administrasi, namun sering kering secara gagasan.

“Seni diperlakukan sebagai ‘agenda’, bukan sebagai ekosistem. Seniman menjadi pengisi acara, bukan subjek yang diajak berpikir bersama,” tegas Jil Kalaran, Kordinator Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) dalam rilisnya ke redaksi iniSurabaya.com, Sabtu (24/1/2026).

Fenomena itulah yang akan jadi topik bahasan seru di Jagongan ala FPKS, program FPKS sejak didirikan Mei tahun lalu. Dan di awal tahun 2026 ini, FPKS mengangkat tema ‘Masa Depan Kesenian di Kota Surabaya’ jadi sebuah diskusi publik yang diselenggarakan di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Senin (26/1/2026) pukul 19.00.

“Di awal tahun ini menjadi momen penting membaca ulang kesenian di Kota Surabaya untuk kemudian melihatnya di masa depan,” imbuhnya.

Menurut Jil Kalaran, Surabaya bukan kota yang lahir dari kesunyian. Ia dibangun oleh suara teriakan pelabuhan, dentang-denting di bengkel-bengkel, doa-doa kampung dan bahkan nyanyian perlawanan.

1 2 3 4

Comments are closed.