
UPT Kebun Raya Mangrove kini di bawah naungan Brida Kota Surabaya. (foto: dok Diskominfo)
Dalam skema ini, terdapat tujuh elemen utama yang saling terhubung, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media, serta dua elemen tambahan yang dinilai krusial, yaitu komunitas dan pengguna (user).
“Banyak riset kampus yang bagus tapi berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya produksi atau tidak selaras dengan daya dukung alam. Sebagai agregator, Brida bertugas melakukan matchmaking. Kami menghubungkan peneliti dengan lembaga pendanaan agar inovasi bisa dihilirisasi,” ucapnya.
Di sisi lain, kata Agus, elemen ‘lingkungan’ dimasukkan sebagai pilar ketujuh untuk memastikan setiap inovasi, seperti proyek blue carbon, mendukung keberlanjutan ekologis.
Dalam kerangka Heptahelix tersebut, Brida berperan sebagai pusat penghubung (hub) yang mengorkestrasi agar riset perguruan tinggi selaras dengan kebutuhan industri, didukung pembiayaan yang berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Dengan terbentuknya Brida dan penerapan konsep Heptahelix, Pemkot Surabaya menetapkan tiga target utama. Pertama, penyelesaian masalah perkotaan melalui riset yang difokuskan pada persoalan riil seperti pengangguran, ekonomi, kemacetan, sampah, dan banjir dengan pendekatan inovasi tepat guna.
Kedua, pengembangan Kebun Raya Mangrove sebagai living laboratory atau laboratorium terbuka bagi peneliti lokal maupun internasional, sekaligus sebagai sarana edukasi sains bagi pelajar Surabaya, Indonesia, hingga dunia.
















