
Jika Surabaya ingin memiliki masa depan kebudayaan yang sehat, maka ia harus berani merawat keseniannya hari ini. Bukan dengan memolesnya agar tampak aman, tetapi dengan membiarkannya hidup, berisik dan jujur.
Sebab dari kota yang memberi ruang pada keseniannya, akan lahir warga yang berpikir, berempati dan tidak mudah tunduk pada lupa. “Mungkin, di situlah masa depan Surabaya benar-benar dimulai,” pungkas Jil.
Forum diskusi ini akan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, seperti kampus, seniman, dan pengamat. Di antaranya yaitu, Dr Edi Dwi Rianto (Dosen Kajian Budaya Lokal FIB Unair), Dr Agung ‘Tato’ Suryanto (Kajur Seni Rupa STKW), Dr Wyna Herdiana (Wadek Fakultas Industri Kreatif Ubaya), Heri Lentho (seniman dari Sanggar Jati Swara), serta Adnan Guntur (penyair dari Saung Indonesia mewakili Gen Z).
Acara yang dipandu Henri Nurcahyo (budayawan) selaku moderator ini juga menghadirkan AH Thony (mantan Wakil ketua DPRD Kota Surabaya dan kini jadi pengamat kebudayaan), dan Isa Anshori (Sekretaris TIM Transformasi Lembaga Seni Budaya Kota Surabaya).
Acara ini diselingi dengan pertunjukan macapatan oleh Sinden Rara Safira bersama Darmono Saputro, Dosen Luar Biasa STKW. */ap
















