Jagongan ala FPKS Bahas ‘Masa Depan Kesenian Surabaya’

0
390


“Kesenian Surabaya di masa lalu tumbuh dari denyut hidup rakyatnya. Dan bukan dari ruang-ruang berpendingin, melainkan dari gang sempit, balai RW, pelataran kampung hingga halaman pabrik,” tandasnya.

Ludruk, parikan, ketoprak, musik patrol, dan seni tutur lainnya, misalnya, hadir sebagai cermin sekaligus senjata. Menghibur, mengkritik dan menjaga kewarasan kolektif. Dalam konteks ini, seni tidak dipisahkan dari hidup.

Ia adalah bagian dari cara warga Surabaya bertahan, melawan sekaligus merayakan. Waktu terus berlari. Kota membesar, gedung-gedung menjulang dan kesenian pun pelan-pelan terdorong ke pinggir.

Kesenian Diukur lewat Proposal
Pendekatan birokratis membuat kesenian diukur lewat proposal, laporan dan angka kehadiran, bukan lewat dampaknya bagi kesadaran sosial.

Ruang-ruang kesenian tumbuh lebih banyak karena inisiatif warga dan komunitas, bukan karena perencanaan kebudayaan yang matang.

Banyak seniman Surabaya hari ini hidup di antara idealisme dan kelelahan. Berkarya dengan daya sendiri, sambil bernegosiasi dengan sistem yang belum sepenuhnya memahami kerja artistik sebagai kerja pengetahuan dan kerja kebudayaan.

Padahal, kota sebesar Surabaya semestinya tidak hanya sibuk mengurus infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur kultural. “Jalan bisa mulus, gedung bisa megah, tetapi tanpa kesenian yang hidup, kota kehilangan daya refleksinya,” cetusnya.

1 2 3 4

Comments are closed.