
dr Prayudi Tetanto SpP FCCP FISR, Spesialis Paru dari Adi Husada Cancer Center di acara Interactive Talkshow bertema ‘Bersama Hadapi Kanker’ dalam rangkaian peringatan Hari Kanker Sedunia.
Karena tidak ada pasokan ‘makanan’, maka kankernya lama-kelamaan mengecil. “Efek sampingnya tidak seperti kemo. Lebih ringan dan cuma tablet minum begitu,” urainya.
Sedang imunoterapi, juga berupa obat yang membuat sel imun kita bisa mengenali sel kanker. “Kanker itu pinter, membuat dirinya tidak dikenali oleh sel imun kita. Jadi dia (kanker) bisa tumbuh tak terkendali. Karena tidak terkontrol maka akan makin membesar,” tandasnya.
Kemanusiaan di Balik Pengobatan
Sementara dr Silvia Haniwijaya Tjokro MKes, General Manager AHCC menyatakan bahwa teknologi medis harus berjalan beriringan dengan empati. “Di AHCC, kami memahami bahwa di balik setiap diagnosis medis, ada sosok manusia dengan cerita dan perjuangan yang unik,” ungkapnya.
Melalui kegiatan yang dilakukan berkolaborasi dengan Picaso Hospital dan RS Adi Husada Undaan Wetan ini, dr Silvia ingin memastikan akses kesehatan yang adil dan perawatan yang hangat bagi setiap individu.
“Kolaborasi ini adalah pengingat bahwa pencegahan kanker dimulai dari langkah kecil di keseharian kita,” ujar Virgie Keen, Marketing Manager AHCC menambahkan. Dengan kombinasi gaya hidup aktif dan deteksi dini yang tepat, peluang kesembuhan serta kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan secara signifikan. ap
















