
Dokter Dini Dharmawidiarini SpM(K), Kepala CDC RSMU sedang melakukan tindakan operasi. (foto: dok/IST)
Namun, menyadari bahwa sekadar kemampuan teknis operasi tidak cukup untuk menjawab tantangan ketersediaan donor yang langka, langkah strategis pun diambil oleh yayasan yang memiliki naungan yang sama dengan RS Mata Undaan ini.
Guna menjawab permasalahan krusial terkait kesenjangan antara kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) donor kornea, Perhimpunan Perawatan Penderita Penyakit Mata Undaan (P4MU) mendirikan CDC RSMU pada tahun 2020 lalu.
Pendirian lembaga ini khusus ditujukan untuk mengatasi minimnya jumlah pendonor kornea di Indonesia melalui edukasi, sosialisasi, pendidikan maupun penyaluran kornea donor, hingga kerjasama lintas lembaga seperti yang terjalin dengan BMI saat ini.
Keberadaan CDC RSMU terbukti efektif dalam memangkas hambatan birokrasi dan teknis dalam pengadaan kornea. Dengan berdirinya CDC RSMU, fokus P4MU tidak hanya pada hilir (operasi) tetapi juga pada hulu (pengadaan donor), sebuah langkah strategis untuk menekan angka kebutaan kornea di Indonesia sekaligus tersedianya layanan kesehatan mata yang merata, khususnya di Indonesia Timur.
CDC RSMU dan RS Mata Undaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas layanan transplantasi ini di bulan-bulan mendatang, dengan harapan dapat mengikis antrian pasien secara bertahap namun pasti. */ap















