Catatan Khusus Gus Bahar Halim Mahfudz: Ketika Bencana Selaras dengan Perilaku Manusia

0
25

iniSURABAYA.com – Ada kebiasaan buruk yang pelan-pelan merayap dalam dada kita: menganggap bumi ini hanyalah sebongkah batu dingin yang tak berjiwa. Ketika perut bumi terbelah, ketika gunung menyemburkan lidah apinya ke udara, atau ketika ombak raksasa menggulung daratan, kita buru-buru berlindung di balik penjelasan yang dangkal.

Kita menyebutnya sekadar angin lalu, sekadar gesekan lempeng tanah, atau anomali musim yang tak punya arti. Di sisi lain, ada pula jemari yang begitu cepat menunjuk wajah orang lain, menuding musibah itu sebagai pukulan azab yang ditujukan khusus untuk para pendosa, sambil lupa memeriksa lumpur hitam yang menempel di kaki sendiri.

Kedua cara pandang ini sejatinya sama-sama buta. Keduanya gagal mendengar bisikan halus dari balik ketukan takdir yang sedang menyapa kita.

​Bumi tempat kita berpijak sejatinya adalah cermin raksasa yang tidak pernah tidur dalam diamnya, apalagi berbohong kepada Sang Pencipta. Ia menatap kita dengan jujur, merekam setiap langkah kaki, dan memantulkan kembali setiap warna dari tabiat manusia.

Ketika kejujuran mulai langka, ketika kesombongan diarak di jalan-jalan kota, dan ketika jeritan orang lemah ditutupi oleh kebisingan rasa serakah, nafas bumi ikut menghebat dan memburu tanpa melihat apa dan siapa.

1 2 3 4 5

Comments are closed.