
Stiker segel disobek Chrisman Hadi sebagai aksi penolakan terhadap aksi pengosongan Sekretariat DKS. (foto-foto: dok/IST)

Meimura turut mendukung aksi penolakan pengosongan Sekretariat DKS.
Meimura menambahkan, peristiwa ini bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan aset, melainkan benturan antara pendekatan struktural pemerintah dengan pendekatan kultural para seniman.
“Pendekatan struktural bekerja dengan target dan kewenangan. Tapi ketika itu terlalu dominan, ruang kultural dianggap tidak produktif karena tidak bisa diukur secara cepat,” tandasnya.
Meimura juga mengaitkan peristiwa ini dengan pengalaman serupa di masa lalu, saat ruang kesenian di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya termasuk tobong ludruk mengalami nasib yang sama.
“Dulu ludruk seperti ‘dikubur’. Hari ini kantor Dewan Kesenian. Panggungnya berbeda, tapi rasanya sama,” katanya.
Ia menyoroti ironi penggunaan istilah ‘dialog’ yang kerap digaungkan dalam forum resmi, namun tidak diwujudkan dalam praktik di lapangan. “Dialog itu sering hanya hidup di proposal. Ketika di lapangan, yang muncul justru kata yang lebih singkat: pengosongan!” ucapnya.
















