
Stiker segel disobek Chrisman Hadi sebagai aksi penolakan terhadap aksi pengosongan Sekretariat DKS. (foto-foto: dok/IST)
Lebih jauh, Meimura menilai hilangnya ruang kesenian bukan semata kehilangan fisik, melainkan juga ancaman terhadap proses perawatan peradaban yang selama ini berlangsung secara senyap di ruang-ruang kultural.
“Seniman terbiasa tanpa gedung. Tapi yang memalukan adalah ketika dialog tidak lagi dianggap penting. Kebudayaan disebut sebagai jiwa bangsa, tapi diperlakukan seperti barang yang bisa dipindahkan tanpa pamit,” kritiknya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya terkait alasan dan mekanisme pengosongan Sekretariat DKS tersebut. */ap















