
Wina Bojonegoro (tengah) dan sang suami, Yoes Wibowo bersama para perupa seni instalasi saat launching buku ‘Lima Jam Selepas Pukul Lima’. (foto-foto: dok)
Pilihan bahasa itu sekaligus menjadi langkah baru dalam perjalanan kepenulisannya. Karya-karya Wina sebelumnya lebih banyak ditulis dalam bahasa Indonesia. Kini, ia bahkan telah menyiapkan rencana untuk menulis novel dengan perpaduan bahasa Indonesia dan Jawa.
Ia juga berencana berkolaborasi dengan Bonari Nabonenar untuk menyusun antologi geguritan atau puisi berbahasa Jawa.
Cerita tentang Perempuan dan Perenungan
Dari sisi sastra, Bonari menilai kekuatan cerpen Wina salah satunya terletak pada akhir cerita yang tidak sekadar menutup kisah, tetapi meninggalkan ruang untuk direnungkan pembaca.
Sementara itu, Diyah melihat persoalan perempuan menjadi salah satu tema yang kuat dalam karya-karya Wina. Menurutnya, isu tersebut diolah dengan pendekatan psikologis yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan.
“Saya selalu termenung lama jika selesai membaca karya cerpen Wina,” ujar Diyah, dosen Universitas Brawijaya Malang.
Buku ‘Lima Jam Selepas Pukul Lima’ sendiri dikemas cukup tebal dengan tampilan lux. Sembilan cerpen di dalamnya disajikan dalam dua bahasa, memberikan pengalaman membaca yang sekaligus mempertemukan cerita dengan kekayaan bahasa daerah.
















