Continuum Selaraskan Tiga Karakter Artistik Trio Perupa Trisandhana

0
140

Terkait makna visual, Tyo menggelitik dalam karya berobjek orang Jawa yang sedang memantau dengan menaiki kuda di atas tebing penuh kabut, Ndelok Soko Nduwur. “Saya mengkritik orang-orang sekarang yang hanya suka melihat atau memantau apa yang dikerjakan orang lain. Bukan ikut bekerja atau melaksanakan tugas,” terangnya.

Ada lagi kritisi Tyo dari cicak besar yang jatuh di pipi seorang pria Jawa berblangkon, Ketiban Cicak. “Dalam kultur Jawa yang saya yakini saat kecil, arti kejatuhan cicak itu adalah rezeki. La ini cicaknya besar jadi kalau ada rezeki besar yang diterima seseorang ya jangan lupa berbagi. Nah, masih ada tidak yang meyakini itu sekarang,” terangnya.

Gambaran mendalam lainnya, sebuah payung jatuh dan terbalik di antara traffic light ketika hujan. Meski visualnya puitik, jangan salah, Tyo menyindir tajam, betapa tak kuasanya peraturan atau pihak yang seharusnya mampu melindungi masyarakat yang seharusnya terayomi, dalam Melindungi Tanpa Teduh.

Hence Virgorina, salah seorang anggota grup perupa Trisandhana, dengan ketiga karyanya.

Bagi Tyo, karya digital art yang dibuatnya tidak saja tentang pilihan teknik melainkan juga cara untuk mengkritisi berbagai fenomena terkait dunia digital sekarang. Mengingat semua aktivitas di berbagai lini kehidupan tak lepas dengan sentuhan digital. Misalnya cara berbelanja sampai transaksinya secara online yang makin memudahkan.

Begitu juga dengan seni digital yang telah menawarkan kreativitas baru dalam berkarya. Dari merancang karya dengan digital lalu dipindahkannya ke dalam kanvas, Tyo menemukan karakter yang cocok dengan dirinya yang suka mengeksplorasi visual. “Saya yakin ke depan seni digital lebih dibutuhkan karena semua informasi tentang seni didapatkan dari sana,” katanya.

1 2 3

Comments are closed.