
Tyo Hartono (kiri), Sutomo, dan Hence Virgorina, tiga perupa yang tergabung dalam Trisandhana.
iniSURABAYA.com – Bersama tak selalu sama. Gambaran itu tampak dalam art exhibition bertajuk Continuum. Disuguhkan oleh grup perupa, Trisandhana, ada tiga karakter artistik berbeda yakni digital art oleh Tyo Hartono, abstract art oleh Hence Virgorina, dan drawing pen oleh Sutomo.
Dengan hanya 10 karya, tiga perupa itu menegaskan tentang keselarasan dalam perbedaan. Dirangkum menjadi satu kesatuan dalam Continuum, Trisandhana seperti menerjemahkan arti nama grup mereka. Dalam bahasa Sansekerta/Jawa Kuno, trisandhana adalah mengikat tiga hal menjadi satu.
Seperti namanya, trisandhana yang terdiri dari tiga unsur, generasi, pilar, atau nilai, bisa disaksikan dalam Continuum. Filosofinya juga tepat yakni tentang keselarasan tiga elemen agar kuat. ”Ketika kami bersanding bertiga tapi tak serupa, ya demikianlah Trisandhana,” tegas Hence.
Seperti yang dipajang Galeri Prabangkara Surabaya 25-31 Agustus 2026 mendatang. Di dinding tersendiri, Tyo dengan empat karya merepresentasikan gaya digital art yang digelutinya selama ini. Melangkah Tanpa Tanya (80 cm x 100 cm), Melindungi Tanpa Teduh (80 cm x 100 cm), Ketiban Cicak (80 cm x 100 cm), dan Ndelok Soko Nduwur (80 cm x100 cm).

Tyo Hartono di depan empat karyanya dalam Continuum.
Sebagaimana rupa seni digital yang ditorehkannya di atas kanvas, sentuhan digital itu sekaligus menguatkan makna visualnya. Selain kekuatan digital art, Tyo menyuguhkan kedalaman pesan. ”Di balik kemudahan yang serbainstan dalam genggaman, ada yang hilang terkait rasa. Apakah ini kemajuan atau justru kita sedang kehilangan sesuatu? Itu dilema menarik,” ungkap Tyo.
















