
Djadi Galajapo hadirkan buku ke-9 berjudul 'NGISLAM'.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan edukatif yang ingin disampaikan Djadi melalui ‘Ngislam’: agama tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dilakoni.
Menggali Islam dari Akar Nusantara
Untuk menjelaskan gagasannya, Djadi juga mengajak pembaca melihat kembali sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Menurut dia, kedatangan Islam melalui para Wali Songo pada sekitar abad ke-15 hingga ke-16 tidak serta-merta menghapus tradisi dan kebudayaan yang telah hidup sebelumnya.
Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, misalnya, dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan ajaran Islam. Djadi melihat proses tersebut sebagai bentuk akulturasi yang memungkinkan nilai Islam berinteraksi dengan akar budaya Jawa.
Dari proses panjang itu kemudian berkembang berbagai tradisi intelektual dan kebatinan Nusantara, seperti suluk, wirid, primbon dan serat.
Ia menyebut sejumlah karya yang menurutnya penting untuk memahami mata rantai pemikiran tersebut, antara lain ‘Suluk Wujil’ yang dikaitkan dengan Sunan Bonang, ‘Serat Wedhatama’ karya Mangkunegara IV, ‘Serat Centhini’, hingga ‘Suluk Linglung’.
Bagi Djadi, warisan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan spiritual masyarakat Nusantara memiliki kekayaan pemikiran yang tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya tempatnya tumbuh.
















