
Djadi Galajapo hadirkan buku ke-9 berjudul 'NGISLAM'.
“Ini bukan lagi pada tataran syariat, tetapi pada makna hakikatnya,” tegasnya.
Yang dimaksud adalah nilai-nilai kemanusiaan yang dapat ditemukan dalam berbagai tradisi dan keyakinan: cinta kasih, kepedulian, empati, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama.
Ketika Ibadah Diuji oleh Perilaku
Salah satu gagasan Djadi yang paling kuat dalam buku tersebut adalah kritik terhadap keberagamaan yang berhenti pada ritual. Ia menggunakan contoh sederhana. Seseorang bisa saja rajin menjalankan ibadah, tetapi pada saat yang sama tidak peduli kepada fakir miskin atau anak yatim.
Bagi Djadi, persoalannya bukan pada ritual itu sendiri, melainkan bagaimana ritual tersebut melahirkan perilaku sosial. “Percuma kalau kamu salat tetapi melalaikan fakir miskin dan yatim piatu,” tandasnya.
Karena itu, ia memandang ibadah sosial sebagai bagian penting dari perjalanan spiritual manusia.
Ketika orientasi keberagamaan diarahkan pada kebaikan sosial, menurut dia, manusia akan lebih mudah menemukan titik temu. Sebaliknya, ketika keberagamaan hanya ditekankan pada persoalan ritual dan perdebatan syariat, perbedaan mengenai halal-haram atau boleh-tidak boleh berpotensi lebih mudah menjadi sumber benturan.
















