Edmund Kuhl, Pengagum Bach yang Mengajak Penonton Peduli Timika dalam Charity Piano Recital

0
9

iniSURABAYA.com – Buat Edmund Kuhl, tak ada komponis dan musisi yang paling melekat di hatinya selain Johann Sebastian Bach. Pria asal Jerman yang menandai era Barok itu memang layak dikagumi Edmund yang juga berdarah Jerman dari ayahnya. Sebab Bach adalah salah satu pencipta musik klasik terhebat sepanjang masa.

Ketika digandeng Lincie Yang dari Grandstave Performing Arts untuk menghimpun dana untuk Timika, Edmund tak punya pilihan lain selain mengusung komposisi besutan Bach. Di Wisma Jerman Surabaya, Ruang Halle, konser pada Sabtu, 12 September 2026 itu menjadi cara Edmund menghormati Bach sekali lagi.

Bertajuk Barockmusik Auf Dem Flügel: Tradition Und Interpretation Mit Edmund Kuhl atau Musik Barok pada Piano: Tradisi dan Interpretasi bersama Edmund Kuhl, pianis muda yang tinggal di Surabaya itu menyuguhkan segenap interpretasinya yang terbaik atas karya-karya Bach.

Berlangsung tak kurang dari 1,5 jam Edmund mengajak 80 penonton dalam permainan pianonya yang penuh penghayatan. Ada empat movement (bagian) yang disusunnya sendiri dalam recital itu. Khusus untuk publik pencinta musik klasik di Surabaya yang merupakan kota asal ibundanya.

Penyelenggara acara, Lincie Yang dari Grand Stave Performing Arts yang sekaligus menjadi MC menerangkan misi Edmund Kuhl dengan konsernya.

Sebagai lagu pembuka (overture) dari opera terkenal karya George Frideric Handel, Edmund memilih Rinaldo. Lagu ini kemudian diaransemen (ditranskripsi) khusus untuk instrumen harpsichord (instrumen musik tuts pendahulu piano) oleh seorang komposer dan pemain harpsichord abad ke-18 bernama William Babell.

Berturut-turut yakni nomor 1 sampai 4, Edmund membagi movement-nya dengan cermat. Dimulai dari prelude to the overture atau bagian awal atau pembuka singkat sebelum masuk ke melodi utama. Meskipun hanya sebagai pemanasan dan pengantar suasana tetapi Edmund sudah membuktikan bahwa ia adalah musisi andal.

Pada bagian utama dari pembukanya itu, Edmund memilih komposisi yang bergaya vivace – allegro. Seperti makna vivace, komposisi yang dimainkannya terasa lincah sekaligus bertempo cepat. Menyusul komposisi yang adagio yakni bagian yang dimainkan dengan tempo lambat dan penuh perasaan.

Saat itulah Edmund menjadi terasa lebih tenang atau megah seolah ingin menunjukkan kekontrasan dengan bagian sebelumnya yang cepat. Lalu masuklah dalam gigue. Seperti jenis tarian Baroque yang berasal dari Inggris/Irlandia, penutup konser dibuat Edmund dengan irama yang sangat cepat, riang, dan melompat-lompat layaknya sebuah tarian.

Secara keseluruhan, semua daftar menu dalam urutan musik yang dipersembahkan Edmund itu memukau penonton. Mereka tampak menikmati mulai dari pembuka, bagian utama yang cepat, bagian tengah yang lambat, dan ditutup dengan tarian yang lincah. Semua menjadi satu kesatuan utuh seolah Edmund ingin menggiring rasa empati.

Konser yang digagas Lincie Yang -direktur Grandstave Performing Arts- bersama Wisma Jerman dan Abide Indonesia itu memang dimaksudkan untuk membantu kebutuhan para penggiat musik klasik di daerah. Menurut Lincie, kebutuhan itu di antaranya sepeda pancal dan biaya sewa rumah untuk dipakai sebagai tempat mengajar musik klasik.

Sebelum konser dimulai, Lincie memberikan gambaran awal tentang misi Edmund termasuk kegiatan yang pernah dilakukan Grand Stave Performing Arts. Kepedulian bisa diwujudkan dengan berdonasi buku piano atau buku teori musik layak pakai. Selama konser, penonton tampak langsung memberikan donasi dalam amplop yang tersedia.

Hebatnya, selain melakukan konser, Edmund ternyata juga menyumbangkan sebuah biola. Setelah tampil, Edmund menyerahkan alat musik pribadinya itu kepada perwakilan Grandstave Performing Arts. ”Saya senang jika alat musik ini dapat dimanfaatkan oleh yang membutuhkan. Daripada di tangan saya yang sudah jarang bermain biola sekarang,” katanya.

Edmund Kuhl (duduk, tengah) diapit oleh kedua orang tuanya, adik kandung, serta oma, yang hadir untuk menyemangati penampilannya dalam konser piano yang berlangsung di Wisma Jerman Surabaya.

Menurut Lincie, tak sekali ini saja Grandstave Performing Arts melakukan konser amal. Sebelumnya pihaknya mengajak masyarakat peduli Sumba Barat. Tetap bersama Wisma Jerman dan dilangsungkan di Ruang Halle, berlangsung konser musik klasik oleh Ya-Ou Xie, seorang pianis dan konduktor, pada 28 Maret 2026.

Saat itu donasi dipakai untuk membeli keyboard dan speaker yang diserahkan untuk membantu aktivitas  seorang guru musik di Sumba Barat. Selain itu, donasi juga disampaikan kepada PAUD yang membutuhkan dana untuk membeli pompa air dan berbagai macam layanan edukasi kepada masyarakat setempat.

Selan penonton umum, di jajaran tempat duduk VIP tampak sejumlah tamu undangan terhormat yakni Mike Neuber (Management Advisor Wisma Jerman) dan Christopher Tjokrosetio selaku Konsul Kehormatan Republik Federal Jerman di Surabaya. Tak lupa ada dukungan kedua orang tua Edmund, adik kandung, serta omanya, yang hadir menyemangati.

Menurut Lincie, ia sangat salut dengan kecemerlangan Edmund di usia yang masih muda. Apalagi tak hanya bermain musik tapi juga melakukan sesuatu dengan musik itu untuk peduli sesamanya. ”Tak lupa saya ingin berterima kasih untuk Bapak Timotius Alfa dari Abide Indonesia yang mendukung konser amal ini,” kata Lincie yang saat ini menjadi perwakilan resmi Indonesia dalam penerimaan mahasiswa musik untuk SRH University di Berlin. (Heti Palestina Yunani)

Comments are closed.