
ArtSubs 2026 menghadirkan Iftikhar Ahmad Rajwie yang mengurai pengalamannya bersama para perajin gerabah Sitiwinangun di Cirebon, serta Arik S Wartono yang berupaya mengangkat kembali jejak sejarah gerabah Desa Gosari, Gresik. (foto: dok/IST)
Dalam pameran Artsubs kali ini Iftikhar menyajikan karya-karya kolaboratifnya dengan sejumlah perajin setempat, antara lain Nurjaji, Eka Budiatmo, Asep Saptian, Fabianto, dan Suyandi. Namun ada juga karya perajin yang tampil sendiri, yaitu karya Muhammad Hasbi Ariobimo. Kesemuanya dapat disaksikan di Zona 6, ruang basement Balai Pemuda Surabaya.
Sedangkan Arik S Wartono memang bukan peserta Artsubs. Arik dikenal sebagai seniman dan kurator yang menelusuri hubungan antara seni rupa, arsip, dan sejarah kebudayaan. Salah satu perhatiannya tertuju pada Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, yang menyimpan jejak industri gerabah masa klasik serta Prasasti Gosari dari abad ke-14.
Melalui pameran ‘Dari Gosari ke Kasongan’, Arik mengangkat kembali jejak tersebut dengan memadukan karya seni, artefak gerabah, dokumentasi fotografi, dan penelusuran sejarah. Baginya, Gosari bukan hanya tempat ditemukannya peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari perjalanan pengetahuan dan tradisi material masyarakat Jawa yang perlu dibaca kembali melalui pendekatan seni.
Pada 17–18 September 2026, Arik menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Dari Gosari ke Kasongan’ di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Pameran tersebut mempertemukan karya seni rupa dengan arsip, artefak gerabah, dokumentasi fotografi, dan kajian sejarah. Dalam pameran itu, Gosari bukan sekadar lokasi atau objek yang difoto.
Desa ini menjadi titik berangkat untuk membaca kembali sejarah teknologi gerabah Jawa, hubungan manusia dengan material alam, serta ingatan kebudayaan yang berisiko terputus.















