
ArtSubs 2026 menghadirkan Iftikhar Ahmad Rajwie yang mengurai pengalamannya bersama para perajin gerabah Sitiwinangun di Cirebon, serta Arik S Wartono yang berupaya mengangkat kembali jejak sejarah gerabah Desa Gosari, Gresik. (foto: dok/IST)
Dalam praktik artistiknya, ia menjadikan keramik sebagai medium utama untuk mengeksplorasi hubungan antara material, budaya, dan pengalaman manusia.
Bagi Iftikhar, keramik tidak sekadar dipahami sebagai benda fungsional, melainkan sebagai artefak budaya yang merekam sejarah, pengetahuan, dan dinamika sosial masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia memusatkan perhatian pada tradisi gerabah Sitiwinangun di Cirebon dengan meneliti posisi, fungsi, serta transformasinya di tengah perubahan zaman. Melalui pendekatan riset dan praktik studio, ia memadukan teknik keramik tradisional dengan bahasa seni kontemporer.
Karakter tanah liat, proses pembentukan, hingga jejak pembakaran diolah sebagai metafora yang merefleksikan ingatan budaya, identitas, serta kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.
Menurut Iftikhar, kolaborasi dengan para perajin Sitiwinangun (Cirebon) ini berangkat dari upaya untuk melihat kembali corak praktik seni tradisi, khususnya keramik tradisi Sitiwinangun. Karya-karya yang ditampilkan lahir dari kekhasan gagasan, visual, serta teknik yang tumbuh dan berkembang dalam praktik keramik di Sitiwinangun.

















