
Penampilan ludruk Marsudi Laras Surabaya. (foto-foto: dok)
4 Unsur Ludruk Bisa Diramu Lebih Kreatif
Salah satu hal menarik dalam festival ini adalah keleluasaan peserta dalam menyusun pertunjukan. Empat unsur utama yang menjadi perhatian penilaian ialah tari remo, kidungan jula-juli, dagelan, serta naskah dan ide cerita.
Keempatnya tidak harus disajikan secara berurutan mengikuti pola pertunjukan konvensional. Peserta diperbolehkan meramu unsur-unsur tersebut dengan pendekatan kreatif, selama karakter ludruk tetap terasa.
Meski memberikan ruang eksperimen, panitia tetap menetapkan sejumlah ketentuan untuk menjaga identitas kesenian ini. Musik dasar pertunjukan harus menggunakan gamelan slendro. Peserta boleh berkolaborasi dengan instrumen lain, tetapi gending jula-juli tidak boleh dihilangkan.
Tema kepahlawanan pun tidak harus diterjemahkan melalui cerita sejarah secara harfiah. Kelompok ludruk dapat mengolah gagasan yang relevan dengan persoalan masa kini, asalkan tetap inovatif dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
“Pendekatan ini membuka peluang bagi seniman untuk menjadikan ludruk sebagai media bercerita tentang kehidupan masyarakat, tanpa melepaskan unsur yang membentuk identitasnya,” tegas Septi.

















