
Empat seniman KBUSR, Handiwirman Saputra, Kokok Sancoko, Hendra Himawan, dan Yuli Prayitno, tampil sebagai narasumber forum Wicara Seniman bertajuk ‘KBUSR: Kantor Bersama Urusan Seni Rupa?’ di selasar lantai 2 Balai Budaya, Balai Pemuda Surabaya, Minggu (11/10/2026). (foto: dok)
Artinya, memindahkan museum tidak cukup dengan membongkar lalu memasang kembali konstruksi yang sama. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar gagasan, bentuk, dan pengalaman yang ditawarkan tetap relevan ketika museum hadir di lingkungan berbeda.
Museum Tanpa Jangkar pada akhirnya bukan sekadar eksperimen memindahkan ruang pamer. Lebih dari itu, gagasan ini menjadi bagian dari upaya KBUSR membangun ekosistem seni rupa melalui kerja kolaboratif, pengelolaan karya, dan perluasan akses publik.
Apakah pendekatan tersebut bisa berkembang menjadi alternatif museum yang berkelanjutan? Jawabannya masih bergantung pada praktik dan eksperimen berikutnya. Namun, melalui ArtSubs, KBUSR telah membuka percakapan bahwa museum tidak selalu harus berawal dari gedung permanen.
Ia juga bisa tumbuh dari gagasan, hubungan dengan lingkungan, dan cara baru dalam mempertemukan seni dengan masyarakat. */ana/ap
















