
Garis Edelweiss, Ufa Faizah, dan Dwi Januartanto hadir sebagai narasumber Wicara Seniman di Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Ketiganya juga peserta pameran seni kontemporer yang berlangsung di Balai Pemuda sejak 19 September hingga 8 November nanti. (foto: dok)
Sedangkan Ufa Faizah malah studi formal di Jurusan Hukum Universitas Brawijaya, sampai tingkat magister, dan sudah praktek di kantor advokat. Namun jiwanya yang suka melukis sejak masih SMP itu meronta-ronta hingga nekat meninggalkan dunia hukum yang menjadi ‘perintah’ ayahnya.
Hingga saat ini anak bungsu tiga bersaudara ini masih tidak mendapat dukungan dari keluarganya, kecuali suaminya sendiri. Gejolak yang terjadi dalam jiwanya dia ekspresikan dalam figur-figur boneka di lukisannya.
Bahasa visualnya sering menggunakan simbol boneka, ruang domestik, serta narasi tentang krisis identitas, rasa takut, dan transformasi diri (seperti karyanya yang terkenal berjudul ‘Metamorphosis: The Self Architect’).
Meski tetap bertahan di kota kecil Situbondo, karya-karya Ufa kini dipasarkan dan direpresentasikan oleh sebuah galeri di Filipina.
Garis Edelweis lain lagi. Meski darah seninya menurun dari ayahnya yang juga melukis, dia lebih suka menekuni dunia desain dan ilustrasi secara otodidak. Asal-usul ‘Edelweiss’ berasal dari nama studio desain kecil miliknya dahulu, yaitu ‘Edelweiss Design’, sebelum ia fokus menekuni dunia seni gambar sejak 2012.
















