
Garis Edelweiss, Ufa Faizah, dan Dwi Januartanto hadir sebagai narasumber Wicara Seniman di Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Ketiganya juga peserta pameran seni kontemporer yang berlangsung di Balai Pemuda sejak 19 September hingga 8 November nanti. (foto: dok)

‘Beyond The Spotlight’ karya Ufa Faizah.
Di sinilah pameran seni rupa berskala besar memiliki peran strategis. Pameran tidak hanya mempertemukan karya dengan penonton.
Ia juga mempertemukan seniman dengan seniman, seniman dengan kurator, institusi, kolektor, dan berbagai jaringan seni.
Pameran menjadi ruang untuk menemukan potensi yang mungkin selama ini tersembunyi karena tidak berada di kota yang dianggap sebagai pusat.
Maka pertanyaannya bukan lagi,“Mengapa seniman daerah tidak datang ke pusat?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah,“Bagaimana pusat-pusat seni membuka diri sehingga berbagai daerah dapat terhubung?”
Pengalaman tiga perupa ini memberikan jawabannya. Pasuruan, Situbondo, maupun Lamongan tidak harus kehilangan identitas lokalnya untuk masuk ke medan seni rupa kontemporer Indonesia.
Mereka dapat hadir melalui jalur masing-masing, membangun jejaring dari tempat mereka berkarya, lalu menemukan simpul-simpul yang menghubungkan mereka dengan medan yang lebih luas.
















