Gelar Karya Foto di Visma Art Gallery, Fabiola Ungkap Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan

0
1149
Angie Mizeur, Kepala Humas Konjen Amerika Serikat dan Education USA Adviser di Surabaya (tengah) turut hadir dan mengapresiasi launching buku dan pameran foto ‘Puja’ di Visma Art Gallery, Jumat (11/3/2022).

iniSURABAYA.com – Ambigu. Serba ketidakpastian itulah yang coba disodorkan Bernadette Godeliva Fabiola Natasha lewat gelaran pameran foto bertajuk ‘Puja’ di Visma Art Gallery Surabaya.

Pameran yang berlangsung selama sebulan dan disajikan mulai Jumat (11/3/2022) itu memajang 12 karya foto dengan ukuran 60×60 cm dan satu foto utama dengan ukuran 110×110 cm.

Tidak ada judul di semua karya foto yang semuanya dalam format lingkaran dalam bingkai kayu persegi. Perempuan yang akrab disapa Faby ini berharap semua yang menikmati karya fotonya  bebas berimajinasi dan memberikan interpretasi atasnya.

Baginya, setiap manusia memiliki perjalanan kehidupan berbeda. “Saya tidak ingin menggiring opini mereka yang melihat karya ini. Bebas sesuai persepsi masing-masing,” tegasnya kepada iniSurabaya.

Dan opini penonton bisa jadi makin ‘liar’ karena Faby menempelkan teknologi augmented reality (AR) di lima karya pilihannya.

Di kesempatan pameran karya foto ini, Faby juga merilis buku berjudul ‘Puja’.

“AR ini dilengkapi musik yang dikerjakan Henri Setiawan, sepupu saya yang profesinya notaris,” ungkapnya.

Disinggung soal karya foto dalam format lingkaran pun, diakui Faby ada makna yang ingin disampaikan kepada pemirsanya. “Lingkaran itu simbol kesempurnaan. Bahwa dalam ketidaksempurnaan pun pasti ada kesempurnaan,” tandas dosen Lassale College ini.  

Melalui karya-karyanya itu, Faby ingin siapa pun tidak mudah menghakimi lainnya. “Selama ini kita sering men-judge orang ‘tidak bisa’ atau ‘bodoh’. Padahal jika kita melihat pakai teropong, sesuatu yang semula hanya sebuat titik jadi sebuah benda besar yang lebih bermakna,” ulasnya.  

Dengan segala keunikannya ‘Puja’sebenarnya mengungkap banyak filosofi mendasar dalam hidup yang ingin dibagikan Faby kepada siapa saja yang menyaksikan karyanya. 

‘Puja’ jadi cara Fabiola mengingat tentang wujud penerimaan dan pengagungan atas semua perjalanan hidup yang telah dia lalui. ”Saya sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal. Everything is nothing. Semua memiliki sifat baik atau buruk. Itu akan terus berulang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang sering terabaikan. Kelahiran, kematian, dan kembali ke kelahiran,” cetusnya. ana

Comments are closed.