Waspadai Si Pencuri Penglihatan! Dampak Buruk Glaukoma Bisa Dicegah, Asal…

0
569

ILUSTRASI : Pemeriksaan mata gratis yang diadakan RS Mata Undaan dalam rangkaian acara World Glaucoma Week 2023.

iniSURABAYA.com – Dokter Lydia Nuradianti SpM mengingatkan pentingnya memeriksakan Kesehatan mata sebelum terlambat. Dan salah satu yang perlu mendapat perhatian serius adalah penyakit glaukoma.

Penyakit yang sering disebut sebagai ‘pencuri penglihatan’ dan bisa sebabkan kebutaan ini bisa terjadi pada semua usia, mulai remaja, dewasa, bahkan juga bayi. Terjadinya glaukoma, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pola makan seseorang.

“Faktor utama glaukoma adalah keturunan atau genetik,” tegasnya saat ditemui iniSurabaya.com di tengah acara World Glaucoma Week 2023 di RS Mata Undaan Surabaya, Minggu (12/3/2023).

Jika seorang ibu terkena glaukoma, kata dokter Lydia, saudara kandungnya harus segera diperiksa. Selain itu, anak kandungnya pun harus segera periksa. “Terutama untuk ibu. Ada enam orang pasien saya yang ibu-ibu, semua anaknya terkena (glaukoma),” ungkapnya.

Sedang pada bapak-bapak, dari tujuh pasien pria, anak yang terkena glaukoma ada tiga orang. “Tetapi yang empat itu harus periksa lagi. Karena glaukoma itu bisa terkenanya pas dia bayi, remaja atau tua. Bisa jadi terkenanya waktu usia 20 tahun, atau usia 40 tahun. Kita nggak tahu,” urainya.

Karena itu, dokter cantik yang gemar gowes ini mengingatkan pentingnya deteksi sejak dini. “Glaukoma itu disebabkan karena hipertensi okuli, atau tensi matanya naik,” ujarnya.

Dokter Lydia Nuradianti SpM

Jika dari hasil pemeriksaan awal diketahui tekanan bola mata di atas 21, dokter Lydia menyarankan yang bersangkutan harus melalukan pemeriksaan ulang seminggu atau dua minggu kemudian.

Kalau tekanan bola matanya terus tinggi, pasien tersebut harus ke dokter mata untuk diberi obat tetes mata sebagai terapi awal.

“Jika diberi obat tetes mata respons positif, ya sudah pakai obat saja,” katanya.

Pada tahap awal, obat tetes mata yang diberikan pada pasien hanya satu macam. Namun, jika setelah pemberian tetes mata itu tekanan bola mata tidak kunjung turun, maka akan ditingkatkan dengan dua hingga tiga macam obat tetes mata. Pokoknya sampai (tekanan bola mata) turun,” imbuhnya.

Alumnus SMA Negeri 5 Surabaya ini menekankan, pasien umumnya tidak sabar lantaran pemberian obat tetes mata ini harus dilakukan pada waktu yang sama secara rutin. “Jika tidak telaten ya tambah parah, dan operasi sebagai langkah terakhir,” cetusnya.

Tindakan operasi itu, lanjut dokter Lydia, dilakukan untuk mengendalikan tekanan pada bola mata agar selama 24 jam tekanan bola mata stabil terus. “Sehingga otomatis syaraf mata tidak ada yang mati lagi,” tuturnya.

Dokter Lydia mengingatkan, pasien yang sudah menjalani operasi masih ada kemungkinan kambuh. “Jika setelah operasi lalu kecelakaan atau terkena tonjokan, ya bisa naik lagi tensi bola matanya,” pungkasnya. ap

Comments are closed.