Java Coffee Culture 2023 & Festival Peneleh: Upaya Pemkot Surabaya Ekplorasi Seni Budaya Kota Pahlawan

0
604

Wiwik Widayati, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Surabaya.

iniSURABAYA.com – Dalam upaya menggali lebih banyak dan lebih dalam potensi wisata sejarah Kota Surabaya, Pemkot Surabaya bakal menggelar acara spesial bertajuk ‘Java Coffee Culture (JCC) 2023 & Festival Peneleh’.

Kegiatan yang dilaksanakan bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) itu rencananya digelar pada 7-9 Juli mendatang di Jalan Tunjungan dan kawasan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Wiwiek Widayati, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya mengatakan, dalam acara bertema ‘Diplomasi Kopi Lintas Generasi’ ini akan ada serangkaian event menarik, mulai dari Educoffee, Showcasing, Business Matching, JCC Competition, Teatrikal Soerabaja Tempoe Doeloe, Pasar Rakjat dan Layar Tanjap, Peneleh Heritage Track, dan masih banyak lainnya.

“Ada juga kompetisi foto, parade mural, hingga ada juga Latte Art Competition, tak lupa ada UMKM Kopi se-Indonesia,” kata Wiwiek, Kamis (29/6/2023).

Wiwiek menekankan, Festival Peneleh adalah bagian dari upaya pemkot menggali potensi sejarah, budaya, dan ekonomi dalam mengembangkan kawasan wisata.

Mengingat kawasan Peneleh merupakan salah satu peradaban tua di Surabaya, diharapkan gelaran festival di kawasan tersebut dapat menjadi bagian dari pembangunan kota yang berkarakter dan beridentitas.  


Pasar Rakyat

Festival Peneleh juga membawa tradisi lama yang pernah ada sebelumnya, yaitu Pasar Rakyat yang digelar secara tradisional ketika musim Muludan (Maulid Nabi).

Suasana Pasar Rakyat yang sudah digelar mulai era tahun 60 itu terkenal tak pernah sepi. Orang-orang berdatangan memadati pasar tradisional ini kala itu.

Pasar yang digelar di sepanjang Jalan Peneleh itu juga tampak berjajar pedagang kaki lima, mulai penjual topeng-topengan, mainan, jajanan, pakaian, dan masih banyak lainnya.

Di kawasan ini pula kontak budaya, sosial, dan ekonomi berjalan kala itu. Namun, sejak 1990-an tradisi Muludan di Peneleh ‘mati’. Tidak ada lagi orang berjualan topeng-topengan dan mainan di sana. Juga tidak ada lagi tontonan budaya lokal di tepian sungai Kalimas.

Maka, rencana dihadirkannya kembali konsep Pasar Rakyat di Festival Peneleh ini, diharapkan akan membuka peluang dan merekonstruksi ulang sejarah Peneleh sebagai upaya pengembangan wisata yang berbasis sejarah, budaya, dan ekonomi.


Pemkot Surabaya bersama Bank Indonesia bukan hanya ingin menggali potensi wisata sejarah dan budaya, tetapi juga ingin mendongkrak perekonomian serta UMKM Kota Pahlawan, terutama di kawasan Peneleh.  


“Dalam festival ini pemkot turut melibatkan 16 RW di kawasan Peneleh. Nanti juga ada sajian kuliner, tampilan seni khas Peneleh dalam festival ini,” urainya.  


Wiwik menandaskan, konsep Festival Peneleh ini pertama kali digelar dengan nuansa dan budaya lokal tempo dulu. “Warga Kota Surabaya bisa hadir dan menikmati serangkaian acara ini mulai 7-9 Juli mendatang,” pungkasnya. wid

Comments are closed.