
Hamid Nabhan

Hamid Nabhan
iniSURABAYA.com – “Berjalanlah sambil menebar benih, kelak pada suatu hari nanti engkau akan menoleh dan melihat buah, hasil dari yang pernah kau tanam.”
Kalimat penuh makna itu digoreskan Hamid Nabhan di bagian awal bukunya yang berjudul ‘Puisi Pohon’. Buku setebal 70 halaman itu sarat protes keras Hamid terhadap maraknya aksi penebangan di sejumlah daerah di negeri ini dan menggantikannya dengan bangunan modern.
Sebagai seniman multitalenta, Hamid selalu berusaha merekam peristiwa di sekitarnya dan menyajikannya melalui karya-karya, baik berupa puisi, lukisan, esai maupun cerita pendek.
“Saya ingin menegaskan pentingnya pohon bagi manusia. Alam kita ini semakin rusak akibat ulah kita,” tegasnya mengenai ‘Puisi Pohon’.
Hamid mengaku prihatin menyaksikan banyaknya pengembangan kawasan baru tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam, sehingga menimbulkan bencana dimana-mana.
Begitu pula di buku yang dia beri judul ‘Opa Penari’. Buku yang terdiri atas lima judul cerita pendek ini sarat permasalahan sosial yang disampaikan dalam gaya satire yang kental.
















