
Hamid Nabhan
Salah satunya adalah ‘Janji’ yang terdiri atas lima bab. Cerpen itu berkisah tentang dua calon pemimpin yang memaparkan janji masing-masing.
Ketika proses pemilihan selesai dan salah satu di antaranya ditetapkan sebagai pemenang, dua orang ini pun berangkulan dengan suka cita.
Ironisnya, di saat yang sama, pendukung mereka masih gontok-gontokan. “Sama tetangga nggak nyapa karena beda pilihan, sama teman dan saudara juga begitu. Realitasnya sering kali seperti itu,” tutur Hamid.
Buku setebal 152 halaman itu mendapat perhatian secara khusus dari Prof Jakob Soemardjo. “Cerpen ini menyajikan kisah umum yang sudah menjadi klise, yaitu mengenai janji-janji kosong para calon pemimpin masyarakat,” tulis Jakob di bagian akhir buku tersebut.
Meskipun berbau klise, lanjut Jakob, di tangan sastrawan yang berpengalaman, topik ini bisa menjelma menjadi sebuah cerpen segar dan menarik. “Karena temuan-temuan khasnya dalam mengamati dan mendalami ‘janji kosong calon pemimpin pemerintahan. Terutama ketika isu ini sedang hangat. Ada rasa kedekatan yang akan dialami pembaca,” tandasnya.
Di buku lainnya berjudul ‘My Quotes on Art, Love, and Life’, Hamid merangkum sederet kata-kata mutiara dalam gayanya yang unik. Buku setebal 155 halaman dan masih menggunakan penerbit yang sama, yaitu Garudhawaca, dibuat dalam dua versi, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. ap

















