
Beragam anggrek hasil budi daya atau hibryda yang dilombakan pada Malaysia Highest Flower Exhibition. Indonesia absen pada kategori ini karena tidak bisa membawa anggrek dari tanah air lantaran rumitnya birokrasi. (foto-foto: dok/IST)
iniSURABAYA.com | MALAYSIA – Di tengah gemerlap Malaysia Highest Flower Exhibition 2026, kisah delegasi Indonesia justru menghadirkan sisi human interest yang mengharukan.
Rokimdakas, jurnalis senior yang turut hadir di acara tahunan tersebut mengungkapkan, berbeda dengan peserta lain yang membawa anggrek dari negaranya masing-masing, Indonesia tidak dapat membawa koleksi sendiri akibat rumitnya regulasi kepabeanan dan perizinan.
Win Selamat Riyadi yang berperan sebagai landscaper juga Wakil Ketua Perhimpunan Anggrek (PAI) Tanah Laut menuturkan, untuk mengirim anggrek ke luar negeri, peserta harus memperoleh izin dari berbagai instansi, termasuk kementerian terkait.
Antara lain Kementrian Kehutanan, Kementrian Pertanian, Kementrian Lingkungan Hidup, Badan ohKonservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bea Cukai.
Selain prosesnya panjang, biaya yang harus dikeluarkan juga sangat besar, baik saat mengirim maupun saat membawa kembali tanaman ke Indonesia.
















