Sibuk Urusan Politik, Industri Indonesia Jauh Tertinggal Dibanding Vietnam, Begini Saran Rahmat Gobel

840 views

Rachmat Gobel, Utusan Khusus Presiden Bidang Investasi dengan Jepang (kanan) menyerahkan kenang-kenangan kepada Masaki Tani, Konsul Jepang di Surabaya (kiri), dan Suzuki Keishiki (Presiden Direktur Jetro) di acara simposium dalam rangka memperingati Hari Jadi Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang ke-60 tahun.

iniSURABAYA – “Siapa saja bisa membuat barang. Tapi Jepang berprinsip, sebelum membuat barang berkualitas, menciptakan sumber daya yang berkualitas adalah sebuah keharusan.”

Demikian penegasan Rahmat Gobel, Utusan Khusus Presiden Bidang Investasi dengan Jepang mengenai sukses yang dicapai Negeri Sakura tersebut.

Rahasia keberhasilan industri Jepang dalam bidang manufacturing itu diungkapkan Rahmat Gobel dalam acara simposium bisnis dan teknologi yang diadakan di Shangri-La Hotel Surabaya, Selasa (11/12/2018).

Rachmat Gobel menyatakan, budaya manufacturing atau dalam istilah dalam bahasa Jepang disebut monozukuri ini diyakininya menjadi kunci dalam menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan teknologi adalah bagian terpenting dalam budaya monozukuri.

“Indonesia harus belajar dari Jepang mengenai cara membuat produk yang efisien dengan produktivitas tinggi,” imbuh Rahmat Gobel yang pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang ini.

Ditekankan pula, peningkatan dalam hal kualitas membuat barang atau manufacturing ini penting bagi Indonesia. Sebab, menurutnya, perdagangan Indonesia masih tertinggal dengan Vietnam, yang notabenenya merupakan negara yang baru bergabung dalam dunia perdagangan bebas.

“Ketika negara lain sudah berkembang, Indonesia masih dalam masa persiapan karena masih disibukkan dengan urusan politik,” tuturnya.

Pada simposium yang dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya itu, Rachmat Gobel menyampaikan harapannya agar generasi muda mampu menyerap ilmu budaya kerja dan etos kerja Jepang.

“Kepercayaan Jepang terhadap Indonesia sangat besar, dengan investasi mereka yang tinggi di Indonesia, sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk membangun nilai tambah buat kita,” papar pria kelahiran 3 September 1962 itu.

Senada dengan tema simposium ‘Collaboration Towards Mutual Prosperity’, pria asal Gorontalo ini menggarisbawahi bahwa hubungan yang terjalin antara Indonesia dengan Jepang ialah bukan dari pocket ke pocket melainkan dari hati ke hati. sum

#kitakyusu #rahmatgobek #vietnam jepang

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)