Pandemi Covid-19 Beri Dampak Signifikan pada Murid dan Orangtuanya, Tetapi Fakta yang Terjadi pada Guru Justru Terabaikan

280 views
Kegiatan belajar mengajar secara langsung masih belum memungkinkan di saat angka kasus pandemi Covid-19 belum stabil. (foto: IST)

iniSURABAYA.com – Di saat penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsekuensi kegiatan belajar di rumah dilakukan selama lebih dari setahun, guru makin sentral disebut sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.  

Bukan karena selama ini tidak berjasa. Tetapi justru lantaran jasanya tidak pernah terbalas.

Sayangnya, pengorbanan dan kerja keras guru jarang sekali mendapatkan perhatian dan apresiasi masyarakat terlebih di masa pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 dan penerapan PJJ memiliki dampak signifikan bagi murid maupun wali murid. Namun, yang sering terlupakan adalah dampak pandemi yang dirasakan oleh para guru.

Faktanya, dengan sistem pembelajaran daring, guru-guru harus beradaptasi cepat untuk berpindah ke platform digital, merancang kurikulum serta strategi pengajaran yang berbeda, agar PJJ dapat berjalan dengan mulus.

Banyak tantangan yang dihadapi guru selama PJJ berlangsung, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal). Yang pertama dan utama adalah kesenjangan teknologi dan fasilitas antara kota besar dengan daerah terpencil.

Tri Widyaswari, guru SD Talang Layan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, bahkan harus membawa genset sendiri untuk berjaga-jaga selama jam sekolah, karena listrik yang kerap padam di tengah pelajaran.

Hal itu dilakukannya demi dapat mengajarkan murid-muridnya yang tidak dapat menikmati fasilitas internet pada masa PJJ. “Kebanyakan rumah di daerah Musi Banyuasin ini listriknya sering sekali padam. Dan saya harus menggunakan materi berupa video saat mengajar,” tuturnya.

Tri menambahkan,”Untuk itu saya mengakalinya dengan membawa genset sendiri agar proses belajar dapat terus berjalan walaupun listrik dalam keadaan padam.”

Selain masalah logistik dan fasilitas, tantangan lain yang menghambat para guru di Indonesia adalah fenomena double role atau peran ganda. Di satu sisi, sebagai guru, mereka harus mengajar secara daring dan memastikan murid bisa menyerap pelajaran dengan baik.

Di waktu yang sama, banyak dari guru di Indonesia yang juga memiliki anak-anak di rumah, yang membutuhkan bantuan mereka untuk mendampingi selama bersekolah daring.

Ditambah lagi, guru juga memiliki pekerjaan rumah tangga yang harus dibereskan, sehingga bisa dibilang bahwa beban guru selama PJJ menjadi lebih berat.

Devi Sulaeman, guru PAUD Percontohan Kementerian Flamboyan 3 di Karawang Barat, ikut merasakan kesulitan ini. “Sebagai guru, saya harus mendampingi anak-anak didik yang masih duduk di bangku PAUD, yang cenderung membutuhkan perhatian lebih karena umur mereka masih sangat muda,” paparnya.

Tetapi sebagai orang tua, lanjutnya, Devi juga harus mendampingi anaknya yang duduk di bangku SMP, supaya bisa mengejar materi di sekolah dengan baik.

“Perlakuannya berbeda, karakter anaknya pun berbeda, sehingga saya harus mendorong diri sendiri untuk bisa beradaptasi secepat mungkin untuk menangani murid dan anak saya di rumah,” urainya. wid

#guru #pahlawantanpatandajasa #pembelajaranjarakjauh

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)