Stikosa-AWS Bedah Buku ‘Transformasi Ryan Sang Jagal 11 Orang’, Dahlan Iskan Beri Komentar Tegas Begini

0
615
Eko Pamuji, Sekretaris PWI Jatim (kiri) bersama dua penulis buku ‘RYAN, Transformasi sang jagal Jombang’.

iniSURABAYA.com – Masih ingat nama dan sosok Ryan Jombang? Kasus sang jagal 11 orang yang terkuak pada April 2009 ini gempar di jagad kriminal.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Depok menjatuhkan vonis hukuman mati kepada pria yang punya nama asli Very Idham Heryansyah ini. Dari keterangan majelis hakim, Ryan terbukti bersalah atas pembunuhan berantai dengan korban 11 orang.

Kisah Ryan itu menjadi inspirasi dua wartawan senior, yang saat ini bekerja di  DI’s Way Media online, untuk melakukan investigasi dan menerbitkannya sebagai buku ‘RYAN, Transformasi sang jagal Jombang’.

Sebelumnya, tulisan jurnalistik investigasi tersebut dimuat berseri di medianya. Launching buku yang menggali sisi kehidupan sang jagal dari Jombang tersebut berlangsung di ruang Multi Media kampus Stikosa–AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi–Almamater Wartawan Surabaya), Rabu (20/4/2022).

Karya buku dua jurnalis tersebut, diapresiasi tinggi oleh Dahlan Iskan. Menurut tokoh pers nasional ini, karya investigasi dua jurnalis tersebut merupakan investigasi mendalam dan masih tergolong karya jurnalistik yang langka di era transformasi media digital. 

“Itulah pekerjaan wartawan yang kadang–kadang menimbulkan keasyikan tersendiri, sehingga saya berterimakasih kepada Stikosa-AWS yang membedah buku ini dan saya anggap Stikosa–AWS memberikan dorongan dan penghargaan kepada wartawan yang melakukan peliputan seperti yang dilakukan dua wartawan kita ini,” tuturnya.  

Sosok yang pernah menjabat BUMN di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini berharap buku ‘RYAN, Transformasi sang jagal Jombang’ bisa dijadikan sebagai salah satu materi (bagian dari mata kuliah-red) untuk mencetak wartawan–wartawan baru atau orang–orang komunikasi baru di Stikosa-AWS.

“Mudah–mudahan buku ini bermanfaat, karena buku ini salah satu contoh yang baik dari pekerjaan wartawan yang sesungguhnya, terutama di jaman digital ini,” tandasnya.

Dahlan meyakini, kalau ini dilakukan pada 15 tahun yang lalu, masih banyak wartawan yang melakukannya. “Tetapi kian kesini, di era digital ini sulit mencari wartawan seperti ini,” urainya.

Buku ‘RYAN, Transformasi sang jagal Jombang’ merupakan kumpulan karya jurnalistik investigasi yang dilakukan Noor Arief Prasetyo (alumni Stikosa–AWS) dan Doan Widhiandono, yang diunggah di media online DI’s Way, media besutan Dahlan Iskan.

Dalam buku tersebut, ada sisi lain dari sosok Ryan yang belum banyak diketahui masyarakat, mengungkap tabir apa motifnya yang sesungguhnya Ryan melakukan pembantaian terhadap 11 korbannya, yaitu sembilan laki–laki dan dua diantaranya perempuan.

Aksi Ryan disebut di banyak media sangat sadis dan mengerikan. Itu pula yang melandasi vonis hukuman mati.

“Kami menuliskan dari hasil peliputan investigasi selama ini, karena saya mencoba memahami bahwa kita sebagai manusia punya dua sisi. Seburuk-buruknya orang masih ada baiknya dan sebaik-baiknya orang masih ada buruknya, sama dengan Ryan,” cetus Noor Arief, satu dari penulis buku ini.

Dia menambahkan,”Dari benang merah yang kami sepakati bahwa dari 11 korban pembunuhan tidak ada satupun yang bermotif ekonomi. Jadi tidak ada Ryan membunuh para korbannya mengincar hartanya, tetapi penghilangan barang (barang bukti kejahatan Ryan-red) itu untuk menghilangkan jejak.”  

Hal senada dituturkan Doan Widhiandono. Dalam hasil investigasi peliputannya, alasan Ryan melakukan pembunuhan terhadap 11 orang itu lantaran permasalahan keluarga yang mendasarinya, mulai dari perselingkuhan yang dilakukan kedua orangtua Ryan secara terang–terangan dihadapan pelaku, hingga mendidik anak mulai masa kecilnya atas pembentukan perilaku Ryan yang begitu membenci sebuah ketidaksetiaan.

Dari situlah Noor Arief Prasetyo dan Doan Widhiandono menemukan anglenya untuk digarap selama 40 edisi dalam 40 hari investigasi. “Ada yang bertanya pada saya bagaimana mengetahui kalau Ryan sekarang benar–benar bertobat? Saya jawab ya saya tidak tahu, yang saya ceritakan di peliputan, saya menggambarkan fakta–fakta secara simbol–simbol yang jelas keseharian Ryan selama di penjara Gunung Sindur,” ujar Doan.

Dia menyatakan bahwa dirinya menggambarkan fakta–fakta Ryan berkopyah, ada tanda hitam di dahinya. Ryan juga diwisuda hafidz, dokumentasi Ryan ikut pengajian, dokumentasi Ryan ikut bagi–bagi takjil selama bulan puasa Ramadan.

“Di buku ini tidak ada (tulisan) penghakiman. Tidak ada menggambarkan hidup baru Ryan, tidak ada. Buku ini menggambarkan kehidupan Ryan sekarang. Cara berpakaian, cara bicaranya masih tertata dan aktivitas Ryan di penjara yang juga diverifikasi keluarganya,” imbuh Doan.

Dua jurnalis tersebut tidak meminta pembaca untuk menyimpulkan. “Oh Ryan sak iki wes dadi wong apik (oh Ryan sekarang jadi orang baik-red). Terserah saja pembaca menyimpulkan seperti apa,” tegas Doan.

Launcing dan bedah buku ‘RYAN, Transformasi sang jagal Jombang’ di kampus Stikosa–AWS berlangsung secara hybrid dan ditayangkan daring di akun media sosial Stikosa–AWS.

Launching dan bedah buku yang dibuka langsung oleh Meithiana Indrasari, Ketua Stikosa–AWS tersebut dihadiri Eko Pamuji, Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, dan diikuti sivitas akademika Stikosa–AWS dan masyarakat umum, baik secara luring dan daring. ana

Comments are closed.